Darah Prajurit TNI di Lebanon || Aceng Syamsul Hadie (ASH): Ujian Harga Diri Indonesia di Panggung Dunia - Warta Global Jabar

Mobile Menu

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Darah Prajurit TNI di Lebanon || Aceng Syamsul Hadie (ASH): Ujian Harga Diri Indonesia di Panggung Dunia

Tuesday, 31 March 2026
Darah Prajurit TNI di Lebanon || Aceng Syamsul Hadie (ASH): Ujian Harga Diri Indonesia di Panggung Dunia

JAKARTA warta global ID- Gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian di Lebanon bukan sekadar kabar duka. Ini adalah alarm keras bagi kedaulatan dan harga diri Indonesia, 3 (tiga) prajurit TNI yang gugur dan 3 (tiga) lainnya terluka. Sangat menggugah hati dan menyedihkan, nyawa anak bangsa melayang di bawah bendera United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL)—sebuah misi yang seharusnya menjamin keamanan, bukan justru menjadi ladang kematian.

"Insiden ini merupakan ujian harga diri Indonesia di panggung dunia, apakah Indonesia hanya menjadi penonton atau justru bangkit dan unjuk taring", ungkap Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM. berinisial ASH selaku Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan International).

ASH mengingatkan bahwa kita tidak boleh lagi meninabobokan diri dengan istilah “risiko tugas.” Jika serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian terjadi berulang, maka itu bukan risiko, melainkan kegagalan serius sistem keamanan internasional. Kegagalan yang mencerminkan lemahnya perlindungan, kaburnya mandat, dan tumpulnya ketegasan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam menghadapi realitas konflik.

Pernyataan normatif seperti yang disampaikan Jean-Pierre Lacroix—yang hanya sebatas “mengutuk keras”—tidak lagi cukup. Dunia tidak membutuhkan kutukan, tetapi tindakan. Tanpa kejelasan pelaku dan tanpa akuntabilitas, setiap kecaman hanya menjadi formalitas diplomatik yang hampa.

"Indonesia harus berhenti menjadi penonton yang sopan dalam tragedi global. Kita adalah salah satu kontributor utama pasukan perdamaian dunia. Namun kontribusi tanpa perlindungan adalah bentuk ketidakadilan. Jika prajurit kita dikirim ke wilayah dengan eskalasi tinggi tanpa jaminan keamanan maksimal, maka itu bukan diplomasi—itu pengorbanan sepihak", sindirnya.

Lebih jauh, konflik di Lebanon tidak berdiri sendiri. Ia berada dalam bayang-bayang kekuatan besar, termasuk Israel dan pengaruh Amerika Serikat di kawasan. Dalam konteks ini, sikap Indonesia tidak boleh setengah hati. Ketegasan terhadap potensi pelanggaran hukum internasional harus disampaikan secara terbuka, bukan dibungkus dalam bahasa diplomasi yang terlalu hati-hati.

ASH menegaskan, dalam menjaga hubungan baik bukan berarti mengorbankan martabat nasional. Justru ketegasanlah yang akan menempatkan Indonesia sebagai negara yang disegani, bukan diabaikan. Dunia Islam, khususnya, menanti keberanian Indonesia untuk tampil sebagai suara moral yang konsisten—bukan sekadar pengikut arus geopolitik.

"Langkah konkret yang harus diambil sudah jelas. Pertama, Indonesia harus mendesak investigasi internasional independen yang transparan dan berujung pada pertanggungjawaban nyata. Kedua, pemerintah wajib melakukan evaluasi total terhadap keterlibatan pasukan di zona konflik aktif, termasuk meninjau ulang standar keamanan, mandat operasi, dan mekanisme evakuasi darurat. Ketiga, jika keselamatan tidak dapat dijamin, maka penarikan sementara pasukan dari wilayah berisiko tinggi harus menjadi opsi serius", desaknya.

ASH menandaskan bahwa nyawa prajurit Indonesia bukan alat tawar-menawar dalam diplomasi global. Mereka adalah simbol kehormatan bangsa. Setiap tetes darah yang jatuh adalah tanggung jawab negara.

Tragedi ini harus menjadi titik balik. Indonesia tidak boleh lagi hanya hadir di panggung dunia sebagai pelengkap. Kita harus menjadi penentu arah, bahkan jika itu berarti bersuara keras terhadap kekuatan besar.

"Jika tidak, maka kita harus jujur: kita gagal menjaga kehormatan mereka yang telah gugur, dan itu adalah kegagalan yang tidak bisa ditebus dengan apa pun", pungkasnya.[]

Sumber: ASH 
Editor: Tim Redaksi

KALI DIBACA

No comments:

Post a Comment