Majalengka, Warta Global ID – Setiap tahun umat Islam menantikan datangnya Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Malam ini diyakini sebagai malam paling mulia, bahkan lebih baik dari seribu bulan. Namun dalam praktiknya, Lailatul Qadar sering kali hanya dipahami sebagai momentum memperbanyak ibadah ritual seperti shalat malam, doa, dan dzikir.
Padahal, jika dimaknai lebih mendalam, Lailatul Qadar memiliki arti yang jauh lebih besar. Ia bukan sekadar malam spiritual, melainkan juga titik awal kebangkitan peradaban Islam.
Hal tersebut disampaikan Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., M.M., Ketua Umum Yayasan Daarurrahman Cigayam, Kasokandel, Kabupaten Majalengka.
“Momentum Lailatul Qadar seharusnya dimaknai sebagai titik awal menuju kebangkitan kembali peradaban Islam,” ujarnya.
Aceng menjelaskan, dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa pada malam inilah wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Peristiwa tersebut bukan hanya peristiwa religius, melainkan juga revolusi intelektual dan moral yang mengubah arah sejarah manusia.
Dari sebuah malam di Gua Hira, lahir pesan ilahi yang kemudian membangun peradaban besar yang membentang dari Timur Tengah hingga Andalusia.
Menurut Aceng, perintah pertama dalam wahyu adalah iqra’ atau “bacalah”. Perintah ini menegaskan bahwa kebangkitan umat tidak pernah terpisah dari ilmu pengetahuan. Sejak awal, Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi utama peradaban.
Karena itu, dalam beberapa abad setelah turunnya wahyu, dunia Islam melahirkan tradisi keilmuan yang sangat maju. Para ilmuwan Muslim memberikan kontribusi besar dalam berbagai bidang, seperti kedokteran, matematika, astronomi, filsafat, hingga teknologi.
Namun, makna Lailatul Qadar tidak berhenti pada lahirnya tradisi ilmu. Kata qadar sendiri bermakna ketentuan atau ukuran.
Dalam dimensi spiritual, malam ini diyakini sebagai saat ditetapkannya berbagai urusan kehidupan manusia oleh Allah SWT untuk satu tahun ke depan. Secara filosofis, konsep tersebut juga mengandung pesan bahwa sejarah manusia berjalan dalam kerangka ketentuan Ilahi, sekaligus membuka ruang bagi usaha manusia untuk mengubah nasibnya.
Artinya, kebangkitan sebuah peradaban tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Ia lahir dari perpaduan antara petunjuk wahyu dan kerja keras manusia dalam menerjemahkan nilai-nilai ilahi ke dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi.
Sayangnya, realitas dunia Islam saat ini menunjukkan paradoks. Umat yang dahulu memimpin peradaban ilmu pengetahuan kini justru banyak tertinggal dalam bidang pendidikan, teknologi, dan ekonomi.
Konflik internal, krisis kepemimpinan, serta ketergantungan pada kekuatan global kerap membuat dunia Islam kehilangan arah strategisnya.
Dalam konteks inilah, menurut Aceng, Lailatul Qadar seharusnya dimaknai kembali secara lebih luas. Malam tersebut bukan hanya momentum mencari pahala spiritual, tetapi juga saat untuk melakukan refleksi peradaban.
“Apakah umat Islam masih menjadikan wahyu sebagai sumber inspirasi untuk membangun ilmu, keadilan, dan kemajuan? Ataukah Ramadhan hanya berhenti pada ritual tahunan tanpa perubahan sosial yang berarti?” tuturnya.
Ia menegaskan, pesan terbesar dari Lailatul Qadar adalah bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran spiritual yang mendalam. Dari kesadaran tersebut lahir keberanian intelektual, integritas moral, serta komitmen membangun masyarakat yang adil.
Sejarah membuktikan bahwa satu malam turunnya wahyu mampu melahirkan perubahan peradaban yang berlangsung selama berabad-abad.
Karena itu, jika umat Islam ingin bangkit kembali, mereka tidak cukup hanya meromantisasi kejayaan masa lalu. Yang dibutuhkan adalah menghidupkan kembali semangat wahyu dengan menjadikan ilmu sebagai kekuatan, keadilan sebagai prinsip, dan kemanusiaan sebagai tujuan.
“Jika spirit ini mampu dihidupkan kembali, maka Lailatul Qadar tidak hanya menjadi malam yang dipenuhi doa dan ibadah, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan kembali peradaban Islam yang membawa rahmat bagi seluruh umat manusia,” pungkasnya.
Sumber: ASH
Editor: Tim Redaksi
KALI DIBACA



.jpg)
No comments:
Post a Comment