Oleh Aceng Syamsul Hadie (ASH)
Aswin ews com l
Setiap tahun umat Islam merayakan Idul Adha dengan gema takbir, penyembelihan hewan, dan khutbah tentang ketakwaan. Namun pertanyaan paling penting justru jarang diajukan secara jujur: apakah yang benar-benar dikurbankan hari ini? Sapi dan kambing, atau justru hanya formalitas ritual yang kehilangan ruh perlawanan moralnya?
Secara teologis, kurban berasal dari kisah monumental Nabi Ibrahim yang diperintahkan mengorbankan putranya, Nabi Ismail. Tetapi inti kisah itu sesungguhnya bukan soal darah, melainkan penghancuran ego, ambisi, dan ketundukan total pada nilai kebenaran.
Ironisnya, di era modern, banyak manusia justru lebih rela menyembelih hewan daripada menyembelih kerakusannya sendiri.
Kurban akhirnya sering berubah menjadi seremoni tahunan yang megah tetapi miskin refleksi sosial. Foto sapi dipamerkan di media sosial, nama donatur diumumkan lewat pengeras suara, bahkan kurban kadang berubah menjadi panggung pencitraan politik yang vulgar. Seolah-olah ketakwaan bisa diukur dari ukuran sapi, bukan ukuran integritas.
Padahal Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa yang sampai kepada Tuhan bukan darah dan dagingnya, melainkan ketakwaannya. Artinya, Tuhan tidak membutuhkan daging sapi. Yang dibutuhkan adalah transformasi moral manusia.
Namun di negeri yang penuh paradoks ini, banyak orang begitu khusyuk berkurban sambil tetap nyaman memakan uang rakyat. Ada pejabat yang menyumbang sapi jumbo tetapi menandatangani kebijakan yang memiskinkan petani. Ada elite yang berbicara soal keikhlasan sambil menumpuk oligarki. Ada tokoh yang rajin bertakbir tetapi diam terhadap ketidakadilan.
Di titik itulah Idul Adha menjadi semacam satire sosial terbesar: pisau kurban begitu tajam ke leher hewan, tetapi sangat tumpul terhadap korupsi, ketamakan, manipulasi hukum, dan kerakusan kekuasaan.
Filsafat kurban sesungguhnya sangat revolusioner. Ia mengajarkan bahwa manusia harus berani kehilangan sesuatu yang dicintainya demi nilai yang lebih tinggi. Dalam konteks hari ini, pengorbanan itu bukan lagi sekadar kambing atau sapi, melainkan keberanian mengorbankan:
"keserakahan ekonomi, mental feodal, budaya korupsi, fanatisme politik, dan kemunafikan sosial."
Karena musuh terbesar manusia modern bukan kemiskinan semata, tetapi kerakusan tanpa batas yang dilegalkan oleh kekuasaan dan dibungkus retorika agama.
Kita hidup di zaman ketika agama sering dipakai sebagai ornamen legitimasi, bukan sumber etika. Ritual membesar, moral mengecil. Simbol keagamaan menjulang, tetapi empati sosial runtuh. Masjid megah berdiri di tengah ketimpangan yang brutal. Takbir menggema, tetapi rakyat kecil tetap tercekik harga kebutuhan hidup.
Dalam perspektif akademis-politik, Idul Adha seharusnya dibaca sebagai kritik terhadap akumulasi kekuasaan dan kapital yang rakus. Kurban mengandung pesan distribusi sosial: bahwa sebagian harta orang kaya adalah hak kaum miskin. Karena itu, esensi kurban bertabrakan langsung dengan sistem ekonomi yang menumpuk kekayaan pada segelintir elite sambil membiarkan mayoritas rakyat hidup dalam kecemasan.
Maka pertanyaan moral terbesar pada Idul Adha bukan:
“Berapa sapi yang dipotong?”
Tetapi:
“Berapa banyak keserakahan yang berhasil disembelih?”
Sebab bila manusia masih rakus, zalim, korup, dan menindas sesama setelah berkurban, maka mungkin yang mati hanyalah hewan ternak — sementara sifat kebinatangan dalam dirinya tetap hidup, sehat, bahkan makin gemuk oleh kekuasaan dan kemunafikan.[]
Redaksi Warta Global ID
KALI DIBACA



.jpg)
No comments:
Post a Comment