Oleh: Aceng Syamsul Hadie (ASH)
Warta global ID l
Kematian demi kematian yang terjadi dalam pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah. Ketika sebuah program pendidikan yang bertujuan mencetak sumber daya manusia unggul justru berujung pada hilangnya nyawa peserta, maka yang patut dipertanyakan bukan sekadar prosedur pelaksanaannya, melainkan juga relevansi konsep pendidikan yang diterapkan.
Pernyataan Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, yang meminta penghentian materi latihan dasar kemiliteran dalam pendidikan calon manajer KDMP patut mendapat perhatian serius. Usulan tersebut bukan sekadar reaksi emosional atas jatuhnya korban jiwa, melainkan refleksi rasional terhadap ketidaksesuaian antara tujuan pendidikan dengan metode yang digunakan.
Pertanyaannya sederhana, apakah seorang manajer koperasi membutuhkan kemampuan dasar kemiliteran untuk mengelola organisasi ekonomi rakyat?
Jawabannya tentu tidak.
Seorang manajer koperasi dituntut memiliki kompetensi dalam tata kelola organisasi, manajemen keuangan, kepemimpinan, pengembangan usaha, pemasaran, digitalisasi, pengelolaan risiko, hingga kemampuan membangun jejaring ekonomi masyarakat. Mereka bukan prajurit yang dipersiapkan menghadapi medan perang ataupun operasi pertahanan negara.
Memang, nilai-nilai disiplin, loyalitas, integritas, dan semangat kebangsaan yang selama ini dijadikan alasan dimasukkannya Latsarmil memiliki sisi positif. Namun, nilai-nilai tersebut sejatinya dapat ditanamkan melalui pendekatan pendidikan sipil yang lebih relevan, manusiawi, dan aman, tanpa harus mengadopsi pola pelatihan fisik ala militer yang berpotensi menimbulkan risiko.
Korban jiwa yang telah berjatuhan bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah anak-anak bangsa yang seharusnya dipersiapkan menjadi penggerak ekonomi desa, bukan menjadi korban dari kebijakan pendidikan yang dinilai tidak tepat sasaran. Jika evaluasi hanya berfokus pada pengetatan pemeriksaan kesehatan, peningkatan pengawasan medis, atau penyesuaian intensitas latihan, maka yang diperbaiki hanyalah prosedur, bukan akar persoalan.
Akar persoalannya terletak pada paradigma.
Paradigma bahwa kedisiplinan hanya dapat dibentuk melalui pendekatan semi-militer sudah saatnya ditinggalkan. Berbagai negara maju membangun kapasitas kepemimpinan dan manajemen melalui pembelajaran partisipatif, simulasi bisnis, studi kasus, mentoring profesional, hingga pelatihan kepemimpinan berbasis pengalaman lapangan tanpa melibatkan unsur kemiliteran.
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih merupakan program strategis nasional yang diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan. Karena itu, pendidikan calon manajernya harus difokuskan pada penguatan kapasitas kewirausahaan, tata kelola koperasi, literasi digital, pengelolaan keuangan, pembangunan jejaring usaha, serta pemahaman terhadap dinamika sosial masyarakat desa.
Alih-alih menghabiskan waktu dan energi dalam latihan fisik bercorak militer, para calon manajer seharusnya dibekali kemampuan menyusun rencana bisnis, membaca laporan keuangan, mengelola konflik organisasi, membangun kemitraan investasi, serta memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan daya saing koperasi.
Keberanian pemerintah menghentikan Latsarmil bagi calon manajer KDMP bukan berarti melemahkan semangat nasionalisme. Sebaliknya, langkah tersebut menunjukkan keberanian untuk mengakui bahwa suatu kebijakan perlu dikoreksi ketika terbukti tidak efektif, tidak relevan, dan berpotensi membahayakan keselamatan peserta.
Sudah saatnya pendidikan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dikembalikan pada tujuan utamanya, yakni mencetak manajer profesional yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat melalui tata kelola yang baik, inovasi, dan kepemimpinan yang adaptif.
Karena pada akhirnya, koperasi tidak membutuhkan komandan lapangan. Koperasi membutuhkan manajer yang kompeten, profesional, berintegritas, dan mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.
--+
Penulis:
Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., M.M.
Ketua Dewan Pembina Pusat ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional)
KALI DIBACA



.jpg)
No comments:
Post a Comment