Aceng Syamsul Hadie: Indonesia Harus Segera Keluar dari BoP, Jangan Jadi Alat Legitimasi Penjajahan - Warta Global Jabar

Mobile Menu

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Aceng Syamsul Hadie: Indonesia Harus Segera Keluar dari BoP, Jangan Jadi Alat Legitimasi Penjajahan

Sunday, 8 March 2026
Aceng Syamsul Hadie: Indonesia Harus Segera Keluar dari BoP, Jangan Jadi Alat Legitimasi Penjajahan

Warta Global ID – Ketua Dewan Pembina DPP (ASWIN), , mendesak pemerintah Indonesia untuk segera mengambil sikap tegas dengan keluar dari Board of Peace (BoP). Menurutnya, Indonesia tidak boleh sampai terseret lebih jauh dalam permainan geopolitik global yang berpotensi merugikan kepentingan nasional.

“Segera keluar dari BoP (Board of Peace) sekarang juga. Jangan biarkan Indonesia dijadikan alat legitimasi penjajah,” tegas Aceng.

Ia menilai, meskipun nama Board of Peace terdengar mulia, sejarah politik internasional menunjukkan bahwa istilah “perdamaian” sering kali digunakan sebagai topeng untuk kepentingan dominasi geopolitik oleh kekuatan besar.

Aceng juga mengingatkan bahwa kemunculan forum semacam itu terjadi di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah, terutama terkait tragedi kemanusiaan di . Ia menyoroti keterkaitan inisiatif tersebut dengan tokoh-tokoh politik global seperti dan yang selama ini berada dalam dinamika konflik di kawasan tersebut.

“Pertanyaannya sederhana, mengapa Indonesia harus masuk dalam forum yang berada dalam orbit kekuatan yang justru menjadi bagian dari konflik itu sendiri?” ujarnya.

Menurut Aceng, forum internasional seperti BoP bukan sekadar ruang diplomasi, melainkan juga bisa menjadi instrumen legitimasi geopolitik. Dengan mengajak Indonesia bergabung, aktor-aktor di balik forum tersebut dinilai ingin membangun narasi global bahwa kebijakan mereka didukung oleh negara Muslim terbesar di dunia.

“Jika itu terjadi, maka Indonesia bukan lagi mediator, melainkan alat propaganda politik internasional. Ini bukan sekadar masalah diplomasi, tetapi menyangkut martabat bangsa,” tegasnya.

Aceng mengingatkan bahwa sejak masa kepemimpinan dan , Indonesia telah memiliki fondasi kuat dalam politik luar negeri bebas dan aktif. Prinsip tersebut lahir dari kesadaran bahwa negara berkembang tidak boleh menjadi pion dalam permainan kekuatan besar dunia.

Prinsip itu pula yang melahirkan solidaritas internasional melalui , di mana Indonesia tampil sebagai kekuatan moral dunia, bukan sebagai pengikut blok kekuatan tertentu.

Namun, menurut Aceng, bergabung dalam BoP berpotensi menyeret Indonesia ke orbit geopolitik tertentu. Dalam situasi global yang semakin terpolarisasi antara blok Barat dan kekuatan alternatif dunia, langkah tersebut bisa menjadi kesalahan strategis yang mahal.

Ia menegaskan bahwa dalam politik global tidak ada persahabatan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Sejarah menunjukkan banyak sekutu yang akhirnya ditinggalkan ketika kepentingan berubah.

“Jika konflik global semakin melebar, keterlibatan dalam struktur seperti BoP justru dapat menempatkan Indonesia pada posisi rawan dan terseret dalam konflik yang bukan kepentingannya,” jelasnya.

Karena itu, Aceng menilai langkah paling rasional dan bermartabat bagi Indonesia adalah menarik diri dari Board of Peace sekarang juga. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak membutuhkan forum yang dirancang kekuatan besar untuk memperjuangkan perdamaian.

“Bangsa ini memiliki sejarah diplomasi yang jauh lebih bermartabat dan independen. Jika pemerintah tetap bertahan dalam BoP, publik berhak bertanya: apakah ini benar-benar untuk perdamaian atau justru membuka pintu bagi Indonesia dijadikan alat dalam permainan geopolitik global?” ujarnya.

“Sejarah akan mencatat pilihan ini, dan sejarah tidak pernah memaafkan bangsa yang secara sukarela membiarkan dirinya dijadikan alat legitimasi kepentingan kekuatan dunia,” pungkasnya.

Sumber: ASH
Editor: Tim Redaksi


KALI DIBACA

No comments:

Post a Comment